Pengedar Sabu Paling Kompak - Seputar Informasi dalam Cerita. Sabu adalah sebuah barang haram yang semestinya tidak digunakan karena dapat merusak masa depan penggunanya. Namun, apa daya Indonesia sudah menjadi negara pengedar sabu papan atas di mata internasional jadi kecil kemungkinan harapan untuk melepaskan image buruk tersebut. Peredaran barang haram di Indonesia bagaikan jamur di musim hujan yang tumbuh begitu subur. Entah mengapa seakan-akan pemerintah yag tidak henti-hentinya melakukan berbagai upaya agar peredaran tersebut dapat dihentikan, malah semakin hari semakin bertambah saja peredarannya.
Sore
itu Prianto dan Wahyuni sedang berjalan tergesa-gesa menuju rumah Atek,
temannya yang berada tidak jauh dari tempat tinggal Prianto dan Wahyuni.
Prianto memang pada hari itu sedang libur dalam pekerjaannya. Prianto bekerja
sebagai wartawan di harian mingguan yang terbit di Kabupaten Blitar, Jawa
Timur. Sedangkan Wahyuni, istrinya, hanya seorang ibu rumah tangga. Gerak-gerik
Prianto dan Wahyuni yang berlari tergesa-gesa menuju rumah Atek membuat curiga
warga sekitar.
Prianto
dan Wahyuni masuk ke dalam rumah Atek dan segera menemui Atek. Ternyata, sudah
menjadi kebiasaan bahwa kedua pasangan suami istri adalah pengguna sekaligus
pengedar sabu yang mendapatkan barang haram tersebut dari seorang bandar di
Tulungagung. Prianto dan Wahyuni juga Atek tidak menyadari bahwa kecurigaan
warga telah mengintai kegiatan mereka. Dan benar saja, seketika kemudian para
warga menggerebek pesta haram tersebut dan tanpa pikir panjang para warga
langsung membawa mereka ke kantor polisi.
Sebagai
sepasang suami istri hendaknya saling mengingatkan apabila salah satu
diantaranya berbuat khilaf. Berbeda dengan Prianto dan Wahyuni yang malah
bekerja sama untuk mengedarkan sabu dengan alasan motif ekonomi. Prianto dan
Wahyuni merupakan salah satu pasangan yang kompak dalam melakukan hal termasuk
menjadi pengedar sabu. Kekompakan
dalam hal seperti inilah yang harus dicegah karena jika pada ujungnya akan
membawa masalah terhadap keluarga terlebih lagi imbasnya kepada anak, maka
dapat dipastikan mental sang anak menjadi guncang karena akibat kekompakan
orang tua yang salah menempatkan arti kekompakan tersebut.

0 comments:
Post a Comment