skip to main |
skip to sidebar
Petani Versus Burung Peking - Seputar Informasi dalam Cerita. Peran petani dalam upaya ketersediaaan pangan
di Indonesia sangat vital. Sebagai ujung tombak pengadaan beras, petani harus berjuang keras untuk bisa
memanen hasil tanaman padinya agar dapat dijual ke pasar. Namun, upaya petani tidak selalu berjalan mulus.
Serangan hama yang silih berganti kadang menyerang tanaman padi para petani. Selain itu, hama dari burung
juga sering menyerang. Dalam hal ini adalah burung peking yang mengincar padi yang hampir panen. Serangan burung peking ini terjadi pagi dan sore
hari membuat petani harus kerja
ekstra menjaga padi yang akan dipanen.

Ijah seorang petani di sebuah kabupaten di Jawa
Barat yang sore itu bersama teman-teman petani
lainnya bekerja sama untuk mengusir burungpeking yang menyambangi persawahan mereka. Hampir tiap pagi sekitar jam
delapan dan jam empat sore, sekawanan burungpeking datang untuk memakan biji padi yang siap dipanen oleh petani. Hal ini membuat Ijah sebagai petani dan kawan-kawannya bekerja
ekstra secara bergiliran mengusir kawanan burungpeking agar pergi dan tidak memakan padi yang siap dipanen.
Ada sebuah nilai moral
yang dapat diambil dari kejadian apa yang dialami para petani tersebut. Yakni adanya rasa tanggung jawab dan kerjasama di
antara petani dalam mengusir burung peking. Kadang memang sebuah
masalah tidak hanya menciptakan sebuah keluh kesah, namun masalah juga dapat
menjadikan seseorang menjadi lebih peka terhadap sesamanya.
Ombak Ganas Meminta Tumbal - Seputar Informasi dalam Cerita. Keganasan ombak di
perairan Indonesia lagi-lagi memintatumbal. Di musim penghujan memang ombak di perairan Indonesia terkenal
ganas dan seringkali membuat orang menjadi celaka. Namun, kali ini yang menjadi
korban dari keganasan ombak tersebut adalah sekelompok mahasiswa yang sedang
berwisata menghabiskan waktu liburannya. Memang nasib siapa yang tahu, liburan
mereka akhirnya berujung pada duka.

Sapto, Andi, Riski, dan
Jamal adalah sekelompok mahasiswa di sebuah universitas di daerah Jawa Barat.
Siang itu mereka dengan senang bermain di pantai menghabiskan waktu liburan.
Mereka tahu bahwa waktu itu cuaca buruk dan ombak sangat ganas. Beberapa kali mereka diingatkan oleh penjaga
pantai. Malang nasib Riski dan Jamal, mereka terseret ombak ganas dan menggulung badan mereka seketika. Beruntung, Sapto
dan Andi berhasil diselamatkan oleh petuga penjaga pantai. Memang pantai
tersebut terkenal dengan ombaknya yangganas dan sering meminta tumbal
pada waktu tertentu.
Musibah seperti diatas
tadi memang tidak diketahui manusia. Paling tidak sebagai manusia harus selalu
waspada. Terlebih jika berlibur ditempat yang memungkinkan adanya bencana
seperti ombak ganas. Kejadian meminta tumbal oleh ombak ganas di atas selayaknya jadi
pelajaran bagi kita semua agar selalu hati-hati jika memilih tempat berlibur.
Jangan sampai niat awal berlibur malah menjadi duka dalam hati.

Bandi yang siang itu
diminta membenahi rumah kakaknya, Kuntadi, dengan semangat mengerjakan apa yang
diminta kepadanya. Rumah Kuntadi hanya di tempati oleh anak perempuan yang
masih berusia 16 tahun. Bandi yang melihat tubuh molek keponakannya tersebut
langsung timbul niat bejat untuk menyetubuhi.
Anak gadis itu tidak menyangka bahwa pamannya tega melakukan perbuatan tersebut
kepada keponakan sendiri hingga
hamil 2 bulan. Bandi mengancam akan membunuh jika orang-orang tahu akan
kejadian tersebut. Namun, waktu yang menjawab dan akhirnya Bandi digelandang ke
kantor polisi.
Perbuatan mesum Bandi
memang patut diberkan hukuman seberat-beratnya. Pikirannya yang dirasuki setan
hingga ia menyetubuhi keponakan sendiri. Ini memberikan
pembelajaran kepada kita semua, pandai-pandailah menjaga diri terlebih lagi
para kaum wanita. Kejahatan tidak hanya datang dari luar atau orang yang tidak
dikenal. Contohnya Bandi, seorang paman yang nekat menyetubuhi keponakansendiri. Mawas dan waspada merupakan harga mutlak bagi kita semua agar
terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan.
Lagi Hamil Kok Jadi Maling - Seputar Informasi dalam Cerita. Memang mencari
pekerjaan yang halal saja sudah sulit di zaman yang sudah amburadul ini. Jangan
salahkan jika banyak orang yang lebih memilih jalan haram demi menyambung
kebutuhan ekonomi. Tidak terkecuali berprofesi sebagai maling. Maling dalam
bahasa halus yang dapat diartikan sebagai pencuri dapat dilakukan siapa saja.
Sungguh tidak habis pikir jika profesi sebagai maling dikerjakan oleh seorang ibu yang sedang hamil. Ibu yang sedang hamil
ini nekat melakukan pencurian di sebuah toko pakaian.

Rini seorang ibu muda
berusia 21 tahun itu sedang hamil.
Siang itu ia melancarkan aksinya seorang diri di sebuah toko pakaian. Ia nekat maling untuk mencukupi kebutuhan
hidupnya. Ia menjadikan tas seorang penjaga kasir di toko pakaian tersebut
menjadi sasarannya. Awalnya Rini hanya melihat-lihat pakaian, namun suatu
kesempatan ketika korbannya sedang lengah, ia membuka tas dan mengambil dompet
si korban. Beruntung perbuatan ibu hamil
itu diketahui oleh korban dan Rini pun di bawa ke kantor kepolisian.
Apa yang dilakukan Rini
adalah sebuah tindakan kriminal. Bagaimanapun juga maling haruslah di hukum. Hukum tidak memandang siapa pun termasuk
ibu hamil. Yang menjadi penekanan
adalah tindakan kriminal tersebut mengapa harus dilakukan oleh ibu hamil? Semoga perbuatan yang dilakukan
oleh Rini tidak ditiru oleh ibu-ibu hamil
lain.
Adu Bibir di Pesawat Terbang - Seputar Informasi dalam Cerita. Lagi-lagi ulah maskapai
penerbangan Indonesia menunjukkan ketidakprofesionalannya dalam bekerja. Sama
seperti kejadian-kejadian yang biasa dialami para penumpang pesawat terbang. Ya, permasalahan
keterlambatan jadwal penerbangan. Tidak tanggung-tanggung, dalam keterlambatan
ini penumpang pesawat terbang
dipaksa menunggu selama lebih dari 2 jam. Maka tidak ayal lagi adu bibir antara para petugas maskapai
penerbangan dan para penumpang pun tidak dapat dihindari.

Adalah Satria seorang
penumpang maskapai penerbangan yang berasal dari Bali menuju Jakarta untuk
kembali dari tugas dinasnya. Satria yang siang itu sudah bersiap-siap berangkat
menuju Jakarta, sudah melaksanakan boarding dan sudah naik di dalam pesawat terbang. Namun, tanpa alasan
yang jelas pihak maskapai penerbangan menunda penerbangan dengan berbagai
alasan. Mulai dari menunggu satu penumpang yang belum ada, hingga pengecekan
bagasi. Terpaksa Satria dan penumpang lain harus turun. Hal ini yang
menyebabkan Satria melakukan adu bibir
terhadap petugas dalam pesawat terbang
tersebut. Setelah menunggu lebih dari dua jam akhirnya pesawat tersebut
berangkat menuju Jakarta.
Kejadian memalukan
tersebut sudah biasa terjadi oleh maskapai penerbangan di Indonesia.
Keterlambatan berangkat pesawat terbang
memang pasti membuat kesal para penumpang. Maka tidaklah heran jika terjadi adu bibir antara pihak petugas pesawat terbang dan para penumpang.
Semoga saja maskapai penerbangan dapat senantiasa selalu meningkatkan standar
pelayanannya.